Minggu, 02 September 2012

Mengantar Kepergiannya


MENGANTAR KEPERGIANNYA
OLEH DHARA ANDARA ANINDYTA/X.3/11

  Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa Dafin langsung mengemasi barangnya dan lari menuju perpustakaan sekolah. Dengan ternganga Lita memandang Dafin, dilihatnya teman sebangkunya itu dengan kagum.
“Mau ke mana,Fin?”
“Biasa ke perpus, kamu mau ikut?” tanya Dafin
“Enggak ah bosen.” Jawab Lita
“Ya udah.” Celetuk Dafin
  Sesampainya di perpus, Dafin langsung mengambil buku yang dapat di raih tanpa melihat. Dafin duduk di tempat membaca dan kebingungan melihat penjuru perpus yang lumayan ramai.
“Nah itu dia.” Celetuk Dafin dengan senyum kepuasan.
  Dipandangnya laki- laki pengurus perpustakaan itu dengan hati- hati. Tanpa sengaja laki- laki bernama Reyfan itu balik memandang dan tersenyum. Wajah Dafin langsung memerah dan dia pun salah tingkah. Bel masuk berbunyi kring! Kring! Kring! Dafin berlari dan kembali ke kelas dengan senang.
“Gimana Fin? Ketemu gak sama Reyfan?” tanya Lita penuh antusias.
“Ketemu dong” jawab Dafin malu- malu.
  MOS masuk SMA telah berakhir. Dafin terlihat sangat senang, karena Dafin kembali satu sekolah dengan Reyfan yang di taksirnya, dan yang lebih mengejutkan mereka satu kelas. Dafin sengaja datang lebih pagi, di lihatnya Reyfan telah datang lebih dulu.
“Hai Fan!” sapa Dafin ramah.
“Hai!” jawab Reyfan dengan malu.
“Boleh gak aku duduk di sebelahmu?” tanya dafin hati- hati.
“boleh kok, santai aja lagi Fin!” jawab Reyfan dengan senyum.
  Dafin duduk dan mengambil buku dari tasnya. Kesunyian masih terasa hingga beberapa anak datang. Dafin memulai pembicaraan dengan basa basi menanyakan hal yang mungkin tidak penting. Mereka mulai mengobrol tentang sekolah mereka dulu dan menceritakan tentang diri mereka masing- masing satu sama lain.
  Sejak percakapan itu mereka jadi bersahabat baik dan duduk bersama di kelas. Bel pulang berbunyi, saat bel pulang inilah yang paling dibenci Dafin, karena dia harus berpisah dengan Reyfan.
  Satu bulan sudah pelajaran berjalan  dan Reyfan pun mulai sibuk mengerjakan tugas, Reyfan harus bolak balikke warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Untuk itu orang tuanya mengijinkan Reyfan membawa motor keluar rumeh dan pergi ke sekolah.
“Reyfan! Mau ke mana Nak malam- malam gini?” tanaya mama bingung.
“Cari tugas Ma diwarnet. Reyfan brangkat dulu ya Ma, Asalamualaikum” celetuk Reyfan.
“Waalaikumsalam! Hati- hati Nak” teriak Mama sambil menggelengkan kepala kagum.
  Malam itu sangat gelap. Reyfan mengendarai motornya dengan hati- hati, karena dia berkaca mata dan matanya kurang jelas jika malam hari. Reyfan tidak lihat ada lubang besar di depannya,  ban depan motornya masuk ke lubang itu, dan Reyfan terpental sangat jauh dari motornya. Reyfan pun tak sadarkan diri dan meninggal di tempat tanpa pesan terakhir.
  Dafin datang pagi seperti biasa dan berharap pagi ini mendapatkan senyum dari Reyfan lagi. Senyum pagi yang sangat indah. Dafin masuk ke kelas, tak ada Reyfan di dalam. Perasaannya mulai tidak enak.
“Tumben banget itu anak jam segini belum  dateng, jangan- jangan kenapa- napa lagi? Aduh Reyfan bikin kawatir aja.” Gerutu Dafin dalam hati.
  Bel masuk berbunyi. Di sambung dengan suara Bu Asih sang kepala sekolah lirih sambil sedikit menangis.
“Inalilahi Wainalilahi Rojiun, telah meninggal dunia anak kami, teman kalian, adik kalian ke rumah Allah SWT yaitu Reyfan Rasyandi Firmansyah dari kela X.12. untuk itu anak kelas X.12 bersama para guru ke rumah Reyfan. Terima kasih.”
  Tubuh Dafin melemas. Suasana kelas terlihat mengharukan, semua anak menangis sedih. Dafin hanya diam tanpa suara, menitikkan air matanya. Dafin tampak sangat pucat, dia pindah duduk di tempat biasa Reyfan duduk. Dafin menutup wajahnya, Dafin menangis sampai tak sadar Pak Achmad, wali kelas Dafin sudah masuk.
“ayo anak-anak!  Kita siap-siap ke rumah Reyfan. Reyfan mungkin sudah menunggu salam terakhir dari kalian.” Ucap Pak Achmad sedih.
“iya, pak.” Jawab anak-anak lirih
Tetapi Dafin tetap duduk diam di tempat Reyfan.
“Ayo Dafin cepat, Refan membutuhkanmu juga.” Celutuk Pak Achmad.
Dafin hanya diam,  terus duduk di sana. Teman sekelasmemandang Dafin sedih, sampai sadar sang ketua kelas duduk di samping Dafin sambil berbisik
 ” kalau kamu seperti ini, Reyfan pasti di atas sana ikut sedih, Fin! Ayo semangat dan kamu harus senyum untuk mengantar kepergian Reyfan.” Bisik Dicky dengan lembut sambil menggandeng Dafin menuju mobil.
  Sesampainya di rumah Reyfan. Suasana duka terlihat sangat jelas. Dafin masuk dan melihat Reyfan terbaring, Dafin tersenyum dia tak ingin terlihat menangis di depan Reyfan. Sampai saat mengantarkan Refan ke pemakaman dia terus tersenyum hingga Reyfan tak terlihat  lagi di hadapannya. Sesaat bau badan Reyfan tercium, barulah Dafin menangis tetap tanpa suara. Kali ini mama Reyfan juga menangis memeluk Dafin dan mengajak Dafin kembali ke rumah Reyfan. Mama Reyfan mengajak Dafin duduk dan memberi Dafin segelas Aqua.
“Dafin! Perlu kamu tau Nak, Reyfan sering cerita tentang kamu. Kamu temen terbaiknya Reyfan Nak.” Ucap mama Reyfan sungguh- sungguh sambil menahan tangisnya.
  Dafin menangis sambil menyesal dalam hati.
“Kenapa aku gak brani ngungkapin perasaanku ke Reyfan!” ucapnya lirih dalam hati.
  Suasana kelas masih terlihat duka. Dafin terus memandang kursi kosong di sebelahnya. Dicky menawarkan diri duduk di tempat Reyfan, namun Dafin malah berteriak  dan menyuruh Dicky kembali ke tempatnya. Dafin menjalani kehidupan barunya tanpa Reyfan, tapi Dafin sadar bahwa Reyfan terus mengawasinya dan menjaganya dari atas sana. Dafin yakin rumah Reyfan di sana lebih indah dari disini.
    Dafin berdiri di depan sebuah makam. Di situlah Reyfan tidur untuk selamanya. Di taruhnya seikat mawar di atas makam Reyfan.
“Aku tau kamu bahagia di sana sekarang walaupun kesepian. Aku cuma mau bilang satu hal yang selama ini aku gak brani ngungkapinnya ke kamu Fan, kalau Aku Sayang Kamu dan Kamu orang pertama yang ngebuat aku semangat ke sekolah.”
  Di tinggalkannya tempat tersebut dengan rasa lega, kembali tercium aroma tubuh Reyfan. Dafin tersenyum  sambil mengusap air matanya.
“Selamat jalan Reyfan, selamanya kamu adalah sahabatku yang paling aku sayang.”

0 komentar:

Posting Komentar