MENGANTAR KEPERGIANNYA
OLEH DHARA ANDARA ANINDYTA/X.3/11
Bel istirahat berbunyi. Seperti
biasa Dafin langsung mengemasi barangnya dan lari menuju perpustakaan sekolah. Dengan
ternganga Lita memandang Dafin, dilihatnya teman sebangkunya itu dengan kagum.
“Mau ke
mana,Fin?”
“Biasa
ke perpus, kamu mau ikut?” tanya Dafin
“Enggak
ah bosen.” Jawab Lita
“Ya
udah.” Celetuk Dafin
Sesampainya di perpus, Dafin langsung mengambil
buku yang dapat di raih tanpa melihat. Dafin duduk di tempat membaca dan
kebingungan melihat penjuru perpus yang lumayan ramai.
“Nah itu
dia.” Celetuk Dafin dengan senyum kepuasan.
Dipandangnya laki- laki pengurus perpustakaan
itu dengan hati- hati. Tanpa sengaja laki- laki bernama Reyfan itu balik
memandang dan tersenyum. Wajah Dafin langsung memerah dan dia pun salah
tingkah. Bel masuk berbunyi kring! Kring! Kring! Dafin berlari dan kembali ke
kelas dengan senang.
“Gimana
Fin? Ketemu gak sama Reyfan?” tanya Lita penuh antusias.
“Ketemu
dong” jawab Dafin malu- malu.
MOS masuk SMA telah berakhir. Dafin terlihat
sangat senang, karena Dafin kembali satu sekolah dengan Reyfan yang di
taksirnya, dan yang lebih mengejutkan mereka satu kelas. Dafin sengaja datang
lebih pagi, di lihatnya Reyfan telah datang lebih dulu.
“Hai
Fan!” sapa Dafin ramah.
“Hai!”
jawab Reyfan dengan malu.
“Boleh
gak aku duduk di sebelahmu?” tanya dafin hati- hati.
“boleh
kok, santai aja lagi Fin!” jawab Reyfan dengan senyum.
Dafin duduk dan mengambil buku dari tasnya. Kesunyian
masih terasa hingga beberapa anak datang. Dafin memulai pembicaraan dengan basa
basi menanyakan hal yang mungkin tidak penting. Mereka mulai mengobrol tentang
sekolah mereka dulu dan menceritakan tentang diri mereka masing- masing satu
sama lain.
Sejak percakapan itu mereka jadi bersahabat
baik dan duduk bersama di kelas. Bel pulang berbunyi, saat bel pulang inilah
yang paling dibenci Dafin, karena dia harus berpisah dengan Reyfan.
Satu bulan sudah pelajaran berjalan dan Reyfan pun mulai sibuk mengerjakan tugas,
Reyfan harus bolak balikke warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Untuk
itu orang tuanya mengijinkan Reyfan membawa motor keluar rumeh dan pergi ke
sekolah.
“Reyfan!
Mau ke mana Nak malam- malam gini?” tanaya mama bingung.
“Cari
tugas Ma diwarnet. Reyfan brangkat dulu ya Ma, Asalamualaikum” celetuk Reyfan.
“Waalaikumsalam!
Hati- hati Nak” teriak Mama sambil menggelengkan kepala kagum.
Malam itu sangat gelap. Reyfan mengendarai
motornya dengan hati- hati, karena dia berkaca mata dan matanya kurang jelas
jika malam hari. Reyfan tidak lihat ada lubang besar di depannya, ban depan motornya masuk ke lubang itu, dan
Reyfan terpental sangat jauh dari motornya. Reyfan pun tak sadarkan diri dan
meninggal di tempat tanpa pesan terakhir.
Dafin datang pagi seperti biasa dan berharap
pagi ini mendapatkan senyum dari Reyfan lagi. Senyum pagi yang sangat indah.
Dafin masuk ke kelas, tak ada Reyfan di dalam. Perasaannya mulai tidak enak.
“Tumben
banget itu anak jam segini belum dateng,
jangan- jangan kenapa- napa lagi? Aduh Reyfan bikin kawatir aja.” Gerutu Dafin
dalam hati.
Bel masuk berbunyi. Di sambung dengan suara
Bu Asih sang kepala sekolah lirih sambil sedikit menangis.
“Inalilahi
Wainalilahi Rojiun, telah meninggal dunia anak kami, teman kalian, adik kalian
ke rumah Allah SWT yaitu Reyfan Rasyandi Firmansyah dari kela X.12. untuk itu
anak kelas X.12 bersama para guru ke rumah Reyfan. Terima kasih.”
Tubuh Dafin melemas. Suasana kelas terlihat
mengharukan, semua anak menangis sedih. Dafin hanya diam tanpa suara,
menitikkan air matanya. Dafin tampak sangat pucat, dia pindah duduk di tempat
biasa Reyfan duduk. Dafin menutup wajahnya, Dafin menangis sampai tak sadar Pak
Achmad, wali kelas Dafin sudah masuk.
“ayo
anak-anak! Kita siap-siap ke rumah Reyfan.
Reyfan mungkin sudah menunggu salam terakhir dari kalian.” Ucap Pak Achmad
sedih.
“iya,
pak.” Jawab anak-anak lirih
Tetapi Dafin
tetap duduk diam di tempat Reyfan.
“Ayo
Dafin cepat, Refan membutuhkanmu juga.” Celutuk Pak Achmad.
Dafin hanya
diam, terus duduk di sana. Teman sekelasmemandang
Dafin sedih, sampai sadar sang ketua kelas duduk di samping Dafin sambil
berbisik
” kalau kamu seperti ini, Reyfan pasti di atas
sana ikut sedih, Fin! Ayo semangat dan kamu harus senyum untuk mengantar
kepergian Reyfan.” Bisik Dicky dengan lembut sambil menggandeng Dafin menuju
mobil.
Sesampainya di rumah Reyfan. Suasana duka
terlihat sangat jelas. Dafin masuk dan melihat Reyfan terbaring, Dafin tersenyum
dia tak ingin terlihat menangis di depan Reyfan. Sampai saat mengantarkan Refan
ke pemakaman dia terus tersenyum hingga Reyfan tak terlihat lagi di hadapannya. Sesaat bau badan Reyfan
tercium, barulah Dafin menangis tetap tanpa suara. Kali ini mama Reyfan juga
menangis memeluk Dafin dan mengajak Dafin kembali ke rumah Reyfan. Mama Reyfan
mengajak Dafin duduk dan memberi Dafin segelas Aqua.
“Dafin! Perlu
kamu tau Nak, Reyfan sering cerita tentang kamu. Kamu temen terbaiknya Reyfan Nak.”
Ucap mama Reyfan sungguh- sungguh sambil menahan tangisnya.
Dafin menangis sambil menyesal dalam hati.
“Kenapa
aku gak brani ngungkapin perasaanku ke Reyfan!” ucapnya lirih dalam hati.
Suasana kelas masih terlihat duka. Dafin
terus memandang kursi kosong di sebelahnya. Dicky menawarkan diri duduk di
tempat Reyfan, namun Dafin malah berteriak
dan menyuruh Dicky kembali ke tempatnya. Dafin menjalani kehidupan
barunya tanpa Reyfan, tapi Dafin sadar bahwa Reyfan terus mengawasinya dan
menjaganya dari atas sana. Dafin yakin rumah Reyfan di sana lebih indah dari
disini.
Dafin berdiri di depan sebuah makam. Di situlah
Reyfan tidur untuk selamanya. Di taruhnya seikat mawar di atas makam Reyfan.
“Aku tau
kamu bahagia di sana sekarang walaupun kesepian. Aku cuma mau bilang satu hal
yang selama ini aku gak brani ngungkapinnya ke kamu Fan, kalau Aku Sayang Kamu
dan Kamu orang pertama yang ngebuat aku semangat ke sekolah.”
Di tinggalkannya tempat tersebut dengan rasa
lega, kembali tercium aroma tubuh Reyfan. Dafin tersenyum sambil mengusap air matanya.
“Selamat
jalan Reyfan, selamanya kamu adalah sahabatku yang paling aku sayang.”




0 komentar:
Posting Komentar