Sejarah Sastra
Indonesia
Sastra Indonesia, adalah sebuah
istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah
“Indonesia” sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam
cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat
merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga
secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu
(dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka
sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu
(selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti
Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Periodisasi Sastra
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2
bagian besar, yaitu:
(a) lisan
(b) tulisan
Secara urutan waktu maka sastra
Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
Angkatan Pujangga Lama
Angkatan Sastra Melayu Lama
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan 1945
Angkatan 1950 – 1960-an
Angkatan 1966 – 1970-an
Angkatan 1980 – 1990-an
Angkatan Reformasi
Angkatan 2000-an
Angkatan 2010
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk
pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20.
Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.
Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi
sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera
bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya
keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama
angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul
karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya
Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
Sejarah Melayu (Malay Annals)
HikayatHikayat Abdullah
Hikayat Aceh
Hikayat Amir Hamzah
Hikayat Andaken Penurat
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Djahidin
Hikayat Hang Tuah
Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Kadirun Hikayat Kalila dan
Damina
Hikayat Masydulhak
Hikayat Pandawa Jaya
Hikayat Pandja Tanderan
Hikayat Putri Djohar Manikam
Hikayat Sri Rama
Hikayat Tjendera Hasan
Tsahibul Hikayat
Syair
Syair Bidasari
Syair Ken Tambuhan
Syair Raja Mambang Jauhari
Syair Raja Siak
Kitab agama
Syarab al-’Asyiqin (Minuman Para
Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
Asrar al-’Arifin (Rahasia-rahasia
para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
Nur ad-Daqa’iq (Cahaya pada
kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
Bustan as-Salatin (Taman raja-raja)
oleh Nuruddin ar-Raniri
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang
dihasilkan antara tahun 1870 – 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat
Sumatera seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya”,
orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit
sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel
barat.
Karya Sastra Melayu LamaRobinson
Crusoe (terjemahan)
Lawan-lawan Merah
Mengelilingi Bumi dalam 80 hari
(terjemahan)
Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
Kapten Flamberger (terjemahan)
Rocambole (terjemahan)
Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
Kisah Pelayaran ke Makassar dan
lain-lainnya
Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer
(Indo)
Cerita Nyi Paina
Cerita Nyai Sarikem
Cerita Nyonya Kong Hong Nio Nona
Leonie
Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
Cerita Si Conat oleh F.D.J.
Pangemanan
Cerita Rossina
Nyai Isah oleh F. Wiggers
Drama Raden Bei Surioretno
Syair Java Bank Dirampok
Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
Tambahsia
Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
Nyai Permana
Hikayat Siti Mariah oleh Hadji
Moekti (indo)
dan masih ada sekitar 3000 judul
karya sastra Melayu-Lama lainnya
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan
karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh
penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi
mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah
sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa
itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan
oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan
dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam
tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam
jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut
sebagai “Raja Angkatan Balai Pustaka” oleh sebab banyak karya tulisnya pada
masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah
dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah
“novel Sumatera”, dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
Balai Pustaka [Merari Siregar] [Azab dan Sengsara](1920) [Binasa kerna Gadis
Priangan](1931) [Cinta dan Hawa Nafsu] [Marah Roesli] [Siti Nurbaya](1922) [La
Hami] (1924) [Anak dan Kemenakan](1956 [Muhammad Yamin][Tanah Air (novel)|Tanah
Air](1922) [Indonesia, Tumpah Darahku] (1928) [Kalau Dewi Tara Sudah
Berkata][Ken Arok dan Ken Dedes] (1934) [Nur Sutan Iskandar][Apa Dayaku karena
Aku Seorang Perempuan] (1923) [Cinta yang Membawa Maut](1926) [Salah
Pilih](1928) [Karena Mentua](1932) [Tuba Dibalas dengan Susu]] (1933)
[Hulubalang Raja] (1934) [Katak Hendak Menjadi Lembu] (1935) [Tulis Sutan Sati]
[Tak Disangka](1923) [Sengsara Membawa Nikmat] (1928) [Tak Membalas Guna](1932)
[Memutuskan Pertalian](1932) [Adinegoro|Djamaluddin Adinegoro] [Darah Muda]
(1927) [Asmara Jaya](1928) [Abas Soetan Pamoentjak] [Pertemuan](1927
[Abdul Muis] [Salah Asuhan]] (1928)
[Pertemuan Djodoh](1933) [Aman Datuk Madjoindo] [Menebus Dosa](1932) [Si Cebol
Rindukan Bulan] (1934) [Sampaikan Salamku Kepadanya] (1935)
Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi
atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis
sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut
rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra
intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah
Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah
dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun
1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua
kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
Kelompok “Seni untuk Seni” yang
dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok “Seni untuk Pembangunan
Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam
Effendi.
[sunting]
Penulis dan Karya Sastra Pujangga
BaruSutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega – kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun
(1940)
Hamka
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck
(1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa – kumpulan sajak
(1960)
Djinak-djinak Merpati – sandiwara
(1950)
Kisah Antara Manusia – kumpulan
cerpen (1953)
Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)
Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939) Roestam
Effendi
Bebasari: toneel dalam 3
pertundjukan
Pertjikan Permenungan
Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)
Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)
Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)
Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)
Karim Halim
Palawija (1944)
Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak
sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra
angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang
romantik – idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita
tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil
Anwar. Sastrawan angkatan ’45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan
Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin
bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
1945
Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)
Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan
Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)
Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke
Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan
Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)
Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)
Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948)
Tambera (1949)
Awal dan Mira – drama satu babak
(1962)
Suman Hs.
Kasih Ta’ Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan
(1957)
Pertjobaan Setia (1940)
[sunting]
Angkatan 1950 – 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan
terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah
karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah
tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra
lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan
komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat
(Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan
polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal
tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam
politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
1950 – 1960-anPramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)
Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara
(1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris
(1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak
(1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak
(1955)
Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)
Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami – 8 cerita
pendek pilihan (1955)
Bianglala – kumpulan cerita pendek
(1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967) Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara – kumpulan sajak 1950-1955
(1958)
Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)
W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)
Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)
Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)
Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)
Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)
Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)
Angkatan 1966 – 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan
terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat
avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada
angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya
sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka
Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini.
Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah
Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan
Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus
sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini
antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto
Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu
Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
1966Taufik Ismail
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Tirani dan Benteng
Buku Tamu Musim Perjuangan
Sajak Ladang Jagung
Kenalkan
Saya Hewan
Puisi-puisi Langit
Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak
Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjang Seorang Pengunjung
Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)
Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi (1969)
Mata Pisau (1974)
Goenawan Mohamad
Parikesit (1969)
Interlude (1971)
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai
Si Malin Kundang (1972)
Seks, Sastra, dan Kita (1980)
Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk
Lebaran di Karet
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung
Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala
Nasjah Djamin
Hilanglah si Anak Hilang (1963)
Gairah untuk Hidup dan untuk Mati
(1968)
Putu Wijaya
Bila Malam Bertambah Malam (1971)
Telegram (1973)
Stasiun (1977)
Pabrik
Gres
Bom Djamil Suherman
Perjalanan ke Akhirat (1962)
Manifestasi (1963)
Titis Basino
Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Pelabuhan Hati (1978)
Leon Agusta
Monumen Safari (1966)
Catatan Putih (1975)
Di Bawah Bayangan Sang Kekasih
(1978)
Hukla (1979)
Iwan Simatupang
Ziarah (1968)
Kering (1972)
Merahnya Merah (1968)
Keong (1975)
RT Nol/RW Nol
Tegak Lurus Dengan Langit
M.A Salmoen
Masa Bergolak (1968)
Parakitri Tahi Simbolon
Ibu (1969)
Chairul Harun
Warisan (1979)
Kuntowijoyo
Khotbah di Atas Bukit (1976)
M. Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
Mahbub Djunaidi
Dari Hari ke Hari (1975)
Wildan Yatim
Pergolakan (1974)
Harijadi S. Hartowardojo
Perjanjian dengan Maut (1976)
Ismail Marahimin
Dan Perang Pun Usai (1979)
Wisran Hadi
Empat Orang Melayu
Jalan Lurus
Angkatan 1980 – 1990-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun
waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan
sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra
Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan
penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat
mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira
Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan
Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi
Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah
sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan
beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka,
Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol
pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di
mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua
sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi
ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah
wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih
dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan
untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an
biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada
era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah
novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya.
Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang
kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari
komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La
Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
1980
Ahmadun Yosi Herfanda
Ladang Hijau (1980)
Sajak Penari (1990)
Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
Sembahyang Rumputan (1997)
Y.B Mangunwijaya
Burung-burung Manyar (1981)
Darman Moenir
Bako (1983)
Dendang (1988)
Budi Darma
Olenka (1983)
Rafilus (1988)
Sindhunata
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Arswendo Atmowiloto
Canting (1986)
Hilman Hariwijaya
Lupus – 28 novel (1986-2007)
Lupus Kecil – 13 novel (1989-2003)
Olga Sepatu Roda (1992)
Lupus ABG – 11 novel (1995-2005)
Dorothea Rosa Herliany
Nyanyian Gaduh (1987)
Matahari yang Mengalir (1990)
Kepompong Sunyi (1993)
Nikah Ilalang (1995)
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
Gustaf Rizal
Segi Empat Patah Sisi (1990)
Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
Ben (1992)
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta
(1999)
Remy Sylado
Ca Bau Kan (1999)
Kerudung Merah Kirmizi (2002)
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran
kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid
(Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan
Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra,
puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar
reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan
dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai
pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi
sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi
merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an,
seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada
tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra — puisi,
cerpen, dan novel — pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh
dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi
Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, juga ikut meramaikan
suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
Reformasi
Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman
[sunting]
Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya
sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena
tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana
tentang lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000″. Sebuah buku tebal tentang Angkatan
2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002.
Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan
Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak
1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma,
serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa
Herliany.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
2000
Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Seno Gumira Ajidarma
Atas Nama Malam
Sepotong Senja untuk Pacarku
Biola Tak Berdawai
Dewi Lestari
Supernova 1: Ksatria, Puteri dan
Bintang Jatuh (2001)
Supernova 2.1: Akar (2002)
Supernova 2.2: Petir (2004)
Habiburrahman El Shirazy
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Diatas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)
Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)
[sunting]
Penulis dan Karya Sastra Angkatan
2010
Dengan lahirnya sastrawan angkatan
2000an maka sebagai tindak lanjut perkembangan sastra di Indonesia maka pada
tahun 2010 tumbuhlah sastrawan angkatan 2010 yang akan bersama dengan sastrawan
angkatan 200an untuk memperjuangkan hak-hak penulis dan dari karya yang banyak
berebdeli karena terkait kondisi politik dan ekonomi negara serta tindak-tindak
kriminal angkataaaaan ini di pelopori Tosa spd.diantara sastrawan angkatan 2010
antara lain sebagai berikut
Tosa spd
lukisan jiwa (2009)Antologi puisi
melan conis (2009)
Toni Saputra
Nurani Soyo Mukti
Cybersastra
Era internet memasuki komunitas
sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi
berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi
oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa
situs Sastra Indonesia di dunia maya.
Karya Sastra dan Periodisasinya
A. Karya Sastra Bentuk Prosa
Karangan prosa ialah karangan yang
bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau
peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni
karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra.
Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan
karya sastra yang bukan astra ialah karya sastra yang nonimajinatif.
Macam Karya Sastra Bentuk Prosa
Dalam khasanah sastra Indonesia
dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra
lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk
prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.
Perbedaan prosa lama dan prosa baru
menurut Dr. J. S. Badudu adalah:
Prosa lama:
1. Cenderung bersifat stastis,
sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat.
2. Istanasentris ( ceritanya sekitar
kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat feodal).
3. Hampir seluruhnya berbentuk
hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca dibawa ke dalam khayal dan fantasi.
4. Dipengaruhi oleh kesusastraan
Hindu dan Arab.
5. Ceritanya sering bersifat anonim
(tanpa nama)
6. Milik bersama
Prosa Baru:
1. Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa
berubah sesuai dengan perkembangaN masyarakat)
2. Masyarakatnya sentris ( cerita
mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)
3. Bentuknya roman, cerpen, novel,
kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan
4. Terutama dipengaruhi oleh
kesusastraan Barat
5. Dipengaruhi siapa pengarangnya
karena dinyatakan dengan jelas
6. Tertulis
1. Prosa lama
Prosa lama adalah karya sastra
daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam
hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama
ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini
disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia. Karya
sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan
karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama
dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan.
Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak
sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Bentuk-bentuk sastra prosa lama
adalah:
a. Mite adalah dongeng yang banyak
mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri.
Contoh Nyi Roro Kidul
b. Legenda adalah dongeng yang
dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin
Kundang
c. Fabel adalah dongeng yang pelaku
utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil
d. Hikayat adalah suatu bentuk prosa
lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan
para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.
e. Dongeng adalah suatu cerita yang
bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.
f. Cerita berbingkai adalah cerita
yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya.
Contoh: Seribu Satu Malam
Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa
yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru
timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad
ke-20. Contoh: Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.
Berdasarkan isi atau sifatnya prosa
baru dapat digolongkan menjadi:
1. Roman adalah cerita yang
mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek
kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang,
banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh
segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir
Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang
Tak Kunjung Padam
2. Riwayat adalah suatu karangan
prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi)
atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan
sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie
atau Ki hajar Dewantara.
3. Otobiografi adalah karya yang
berisi daftar riwayat diri sendiri.
4. Antologi adalah buku yang berisi
kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip
Rosyidi
5. Kisah adalah riwayat perjalanan
seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan
makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar – Adinegoro,
Catatan di Sumatera – M. Rajab.
6. Cerpen adalah suatu karangan
prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam
cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman.
Corat-coret di Bawah Tanah karangan Idrus.
7. Novel adalah suatu karangan prosa
yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan
kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.
8. Kritik adalah karya yang
menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi
alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya
objektif dan menghakimi.
9. Resensi adalah
pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya
bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek
seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan
penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau
dinikmati.
10. Esei adalah ulasan/kupasan suatu
masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa
berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya,
seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera
pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.
B. Puisi
Puisi adalah bentuk karangan yang
terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang
padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah
a. tema adalah tentang apa puisi itu
berbicara
b. amanat adalah apa yang
dinasihatkan kepada pembaca
c. rima adalah persamaan-persamaan
bunyi
d. ritma adalah
perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur
e. metrum/irama adalah turun naik
lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris
f. majas/gaya bahasa adalah
permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi
g. kesan adalah perasaan yang
diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)
h. diksi adalah pilihan
kata/ungkapan
i. tipografi adalah
perwajahan/bentuk puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan
atas puisi lama dan puisi baru.
a. puisi lama
Ciri puisi lama:
1. merupakan puisi rakyat yang tak
dikenal nama pengarangnya
2. disampaikan lewat mulut ke mulut,
jadi merupakan sastra lisan
3. sangat terikat oleh aturan-aturan
seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
Yang termausk puisi lama adalah
1. mantra adalah ucapan-ucapan yangd
ianggap memiliki kekuatan gaib
2. pantun adalah puisi yang
bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12
suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.
Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi,
agama/nasihat, teka-teki, jenaka
3. karmina adalah pantun kilat
seperti pantun tetapi pendek
4. seloka adlah pantun berkait
5. gurindam adalah puisi yang
berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat
6. syair adalah puisi yang bersumber
dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau
cerita
7. talibun adalah pantun genap yang
tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris
b. puisi baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas
daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun
rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas
1. balada adalah puisi berisi
kisah/cerita
2. himne adAlah puisi pujaan untuk
Tuhan, tanah air, atau pahlawan
3. ode adalah puisi sanjungan untuk
orang yang ebrjasa
4. epigram adalah puisi yang berisi
tuntunan/ajaran hidup
5. romance adalah puisi yang berisi
luapan perasaan cinta kasih
6. elegi adalah puisi yang berisi
ratap tangis/kesedihan
7. satire adalah puisi yang berisi
sindiran/kritik
Membaca Puisi
Adapun faktor-faktor yang harus
diperhatikan dalam membaca puisi antara lain:
1. jenis acara: pertunjukkan,
pembuka acara resmi, performance-art, dll.,
2. pencarian jenis puisi yang cocok
dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan,
percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,
3. pemahaman puisi yang utuh,
4. pemilihan bentuk dan gaya baca
puisi, meliputi poetry reading, deklamasi, dan teaterikal
5. tempat acara: indoor atau
outdoor,
6. audien,
7. kualitas komunikasi,
8. totalitas performansi:
penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)
9. kualitas vokal, meliputi volume
suara, irama (tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo)
10. kesesuaian gerak,
11. jika menggunakan bentuk dan gaya
teaterikal, maka harus memperhatikan:
a) pemilihan kostum yang tepat,
b) penggunaan properti yang efektif
dan efisien,
c) setting yang sesuai dan mendukung
tema puisi,
d) musik yang sebagai musik pengiring
puisi atau sebagai musikalisasi puisi
C. Drama/Film
Drama atau film merupakan karya yang
terdiri atas aspek sastra dan asepk pementasan. Aspek sastra drama berupa
naskah drama, dan aspek sastra film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya
terdiri dari tema, amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik,
dialog, tata artistik (make up, lighting, busana, properti, tata panggung,
aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan
akting (peragaan gerak para pemain).
D. Periodisasi Sastra Indonesia
Periodisasi sastra adalah pembabakan
waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu.
Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan
periode yang lain.
1. Zaman Sastra Melayu Lama
Zaman ini melahirkan karya sastra
berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.
2. Zaman Peralihan
Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin
Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi
tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat
yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura
Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia
lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi
menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.
3. Zaman Sastra Indonesia
a. Angkatan Balai Pustaka (Angkatan
20-an)
Ciri umum angkatan ini adalah tema
berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak
sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai
adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.
Tokohnya adalah Marah Rusli (roman
Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar
(novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah
Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah
(novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan
cerpen Teman Duduk)
b. Angkatan Pujangga Baru (Angkatan
30-an)
Cirinya adalah 1) bahasa yang
dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat
atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi
wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi
bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang
disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh
barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut
adalah romantik idealisme, dan 6) setting yang menonjol adalah masyarakat
penjajahan.
Tokohnya adalah STA Syhabana (novel
Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi
Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi
Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam
Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka
(roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).
c. Angkatan ’45
Ciri umumnya adalah bentuk prosa
maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak
ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih
mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti
angkatan sebelumnya.
Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan
puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga
Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya,
Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer
(novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)
d. Angkatan ’66
Ciri umumnya adalah tema yang
menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang
mendekati bentuk prosa.
Tokohnya adalah W.S. Rendra
(kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta),
Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel
Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang),
Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah),
Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).
E. Identifikasi Moral, Estetika,
Sosial, Budaya Karya Sastra
1. Identifikasi Moral
Sebuah karya umumnya membawa pesan
moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara langsung maupun
tidak langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku
tokoh- tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya itu.
2. Identifikasi Estetika atau Nilai
Keindahan
Sebuah karya sastra mempunyai
aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu. Sebuah puisi,
misalnya: dapat diamati aspek persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain.
Dalam cerpen dapat diamati pilihan gaya bahasanya.
3. Identifikasi Sosial Budaya
Suatu karya sastra akan mencerminkan
aspek sosial budaya suatu daerah tertentu. Hal ini berkaitan dengan warna
daerah. Sebuah novel misalnya, warna daerah memiliki corak tersendiri yang
membedakannya dengan yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek
sosial budaya:
a. Pembayaran karya Sunansari Ecip
mengungkapkan kehidupan di Sulawesi Selatan.
b. Bako Karya Darman Moenir
mengungkapkan kehidupan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.
eriodisasi Sastra Indonesia – Presentation
Transcript
Periodisasi Sastra Indonesia
Oleh:
Alexander Gotama
Deviana Maria
Fiona Angelina
Rafaello Simorangkir
Menurut HB. Jassin
Periodisasi Sastra
Pengertian:
penggolongan sastra berdasarkan
pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya.
Periodisasi sastra, selain
berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan
dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah
yang dijadikan objek karya kreatifnya.
Periodisasi Sastra
Ada banyak periodisasi sastra yang
disusun oleh para kritikus, antara lain oleh:
HB. Jassin
Ajip Rosidi
A. Teeuw
Rahmat Djoko Pradopo
Yang akan dibahas dalam presentasi
ini adalah Periodisasi Sastra menurut HB. Jassin.
HB. Jassin , kritikus Indonesia
Periodisasi Sastra Indonesia Menurut
HB. Jassin
Berikut ini adalah periodisasi
sastra menurut HB. Jassin:
Sastra Melayu Lama
Sastra Indonesia Modern
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan ’45
Angkatan ‘66
Sastra Melayu Lama
Sastra Melayu Lama merupakan sastra
Indonesia sebelum abad 20.
Ciri-ciri Sastra Melayu Lama:
Masih menggunakan bahasa Melayu
Umumnya bersifat anonim
Berciri istanasentris
Menceritakan hal-hal berbau mistis
seperti dewa-dewi, kejadian alam, peri, dsb.
Sastra Melayu Lama
Contoh sastra pada masa Sastra
Melayu Lama:
Dongeng tentang arwah, hantu/setan,
keajaiban alam, binatang jadi-jadian, dsb.
Berbagai macam hikayat seperti;
Hikayat Mahabharata, Hikayat Ramayana, Hikayat Sang Boma.
Syair Perahu dan Syair Si Burung
Pingai oleh Hamzah Fansuri.
Gurindam Dua Belas dan Syair Abdul
Muluk oleh Raja Ali Haji
Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan titik tolak
kesustraan Indonesia.
Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka
adalah:
Menggunakan bahasa Indonesia yang
masih terpengaruh bahasa Melayu
Persoalan yang diangkat persoalan
adat kedaerahan dan kawin paksa
Dipengaruhi kehidupan tradisi sastra
daerah/lokal
Cerita yang diangkat seputar
romantisme.
Angkatan Balai Pustaka terkenal
dengan sensornya yang ketat. Balai Pustaka berhak mengubah naskah apabila
dipandang perlu.
Contoh hasil sastra yang mengalami
pen-sensoran adalah Salah Asuhan oleh Abdul Muis yang diubah bagian akhirnya
dan Belenggu karya Armyn Pane yang ditolak oleh Balai Pustaka karena tidak
boleh diubah.
Angkatan Balai Pustaka
Contoh sastra pada masa Angkatan
Balai Pustaka:
Roman
Azab dan Sengsara (Merari Siregar)
Sitti Nurbaya (Marah Rusli)
Muda Teruna (M. Kasim)
Salah Pilih (Nur St. Iskandar)
Dua Sejoli (M. Jassin, dkk.)
Kumpulan Puisi
Percikan Permenungan (Rustam
Effendi)
Puspa Aneka (Yogi)
Angkatan ‘45
Angkatan ’45 lahir dalam suasana
lingkungan yang sangat prihatin dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme
Jepang dan dilanjutkan peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ciri-ciri Angkatan ’45 adalah:
Terbuka
Pengaruh unsur sastra asing lebih
luas
Corak isi lebih realis, naturalis
Individualisme sastrawan lebih
menonjol, dinamis, dan kritis
Penghematan kata dalam karya
Ekspresif
Sinisme dan sarkasme
Karangan prosa berkurang, puisi
berkembang
Chairil Anwar , sastrawan Angkatan
‘45
Angkatan ‘45
Contoh sastra pada masa Angkatan
’45:
Tiga Menguak Takdir (Chairil
Anwar-Asrul Sani-Rivai Apin)
Deru Campur Debu (Chairil Anwar)
Kerikil Tajam dan yang Terampas dan
yang Putus (Chairil Anwar)
Pembebasan Pertama (Amal Hamzah)
Kata Hati dan Perbuatan (Trisno
Sumarjo)
Tandus (S. Rukiah)
Puntung Berasap (Usmar Ismail)
Suara (Toto Sudarto Bakhtiar)
Surat Kertas Hijau (Sitor
Situmorang)
Dalam Sajak (Sitor Situmorang)
Rekaman Tujuh Daerah (Mh. Rustandi
Kartakusumah)
Angkatan ‘66
Angkatan ’66 ditandai dengan
terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada
angkatan ini.
Banyak karya sastra pada angkatan
yang sangat beragam dalam aliran sastra, seperti munculnya karya sastra
beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lainnya.
Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan
’66 adalah:
Bercorak perjuangan anti tirani
proses politik, anti kezaliman dan kebatilan
Bercorak membela keadilan
Mencintai nusa, bangsa, negara dan
persatuan
Berontak
Pembelaan terhadap Pancasila
Protes sosial dan politik
Angkatan ‘66
Contoh sastra pada masa Angkatan ’66
adalah:
Putu Wijaya
Pabrik
Telegram
Stasiun
Iwan Simatupang
Ziarah
Kering
Merahnya Merah
Djamil Suherman
Sarip Tambak-Oso
Perjalanan ke Akhirat
ANGKATAN PUJANGGA BARU
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan Pujangga Baru muncul
sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap
karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang
menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.
Sastra Pujangga Baru adalah sastra
intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern
Indonesia.
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan Pujangga Baru (1930-1942)
dilatarbelakangi kejadian bersejarah “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.
Ikrar Sumpah Pemuda 1928:
Pertama Kami poetera dan poeteri
indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea Kami poetera dan poeteri
indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga Kami poetera dan poeteri
indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Melihat latar belakang sejarah pada
masa Angkatan Pujangga Baru, tampak Angkatan Pujangga Baru ingin menyampaikan
semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam satu bahasa yaitu bahasa
Indonesia.
Angkatan Pujangga Baru
Pada masa ini, terbit pula majalah
"Poedjangga Baroe" yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir
Hamzah dan Armijn Pane.
Pada masa Angkatan Pujangga Baru,
ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu:
Kelompok “Seni untuk Seni”
Kelompok “Seni untuk Pembangunan
Masyarakat”
Angkatan Pujangga Baru
Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan
Pujangga Baru antara lain sbb:
Sudah menggunakan bahasa Indonesia
Menceritakan kehidupan masyarakat
kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah
berkembang)
Pengaruh barat mulai masuk dan
berupaya melahirkan budaya nasional
Menonjolkan nasionalisme,
romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme.
Angkatan Pujangga Baru
Salah satu karya sastra terkenal
dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir
Alisjahbana.
Layar Terkembang merupakan kisah
roman antara 3 muda-mudi; Yusuf, Maria, dan Tuti.
Yusuf adalah seseorang mahasiswa
kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita.
Maria adalah seorang mahasiswi
periang, senang akan pakaian bagus, dan memandang kehidupan dengan penuh
kebahagian.
Tuti adalah guru dan juga seorang
gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja, aktif dalam perkumpulan dan
memperjuangkan kemajuan wanita.
Angkatan Pujangga Baru
Dalam kisah Layar Terkembang, Sutan
Takdir Alisjahbana ingin menyampaikan beberapa hal yaitu:
Perempuan harus memiliki pengetahuan
yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam
kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih
dihargai kedudukannya di masyarakat.
Masalah yang datang harus dihadapi
bukan dihindarkan dengan mencari pelarian. Seperti perkawinan yang digunakan
untuk pelarian mencari perlindungan, belas kasihan dan pelarian dari rasa
kesepian atau demi status budaya sosial.
Angkatan Pujangga Baru
Selain Layar Terkembang, Sutan
Takdir Alisjahbana juga membuat sebuah puisi yang berjudul “Menuju ke Laut”.
Puisi “Menuju ke Laut” karya Sutan
Takdir Alisjahbana ini menggunakan laut untuk mengungkapkan h ubungan antara
manusia, alam, dan Tuhan.
Ada pula seorang sastrawan Pujangga
Baru lainnya, Sanusi Pane yang menggunakan laut sebagai sarana untuk
mengungkapkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Karya Sanusi Pane ini tertuang dalam
bentuk puisi yang berjudul “ Dalam Gelombang”.
Sanusi Pane , pengarang puisi “
Dalam Gelombang”
Angkatan Pujangga Baru
Ditinjau dari segi struktural, ada
persamaan struktur antara puisi Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane yaitu
pengulangan bait pertama pada bait terakhir.
Sementara itu, ditinjau dari segi
isi, tampak ada perbedaan penggambaran laut dalam puisi Sutan Takdir
Alisjahbana dan Sanusi Pane.
Jika Sutan Takdir Alisjahbana
menggambarkan laut sebagai sebuah medan perjuangan, Sanusi Pane menggambarkan
laut sebagai suatu tempat yang penuh ketenangan.
Angkatan Pujangga Baru
Kami telah meninggalkan engkau,
Tasik yang tenang tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun,
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun,
dari mimpi yang nikmat.
Ombak riak berkejar-kejaran
di gelanggang biru di tepi langit.
Pasir rata berulang di kecup,
tebing curam ditentang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.
…
… Aku bernyanyi dengan suara Seperti
bisikan angin di daun Suaraku hilang dalam udara Dalam laut yang beralun-alun
Alun membawa bidukku perlahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak
berkawan Entah kemana aku tak tahu Menuju ke Laut Oleh Sutan Takdir Alisjahbana
Dibawa Gelombang Oleh Sanusi Pane
Angkatan Pujangga Baru
Amir Hamzah diberi gelar sebagai
“Raja Penyair” karena mampu menjembatani tradisi puisi Melayu yang ketat dengan
bahasa Indonesia yang sedang berkembang. Dengan susah payah dan tak selalu
berhasil, dia cukup berhasil menarik keluar puisi Melayu dari puri-puri Istana
Melayu menuju ruang baru yang lebih terbuka yaitu bahasa Indonesia, yang
menjadi alasdasar dari Indonesia yang sedang dibayangkan bersama.
Selain Sutan Takdir Alisjahbana, ada
pula tokoh lain yang terkenal dari Angkatan Pujangga Baru sebagai “Raja
Penyair” yaitu Tengku Amir Hamzah .
Sastrawan dan Hasil Karya
Sastrawan pada Angkatan Pujangga
Baru beserta hasil karyanya antara lain sbb:
Sultan Takdir Alisjahbana
Contoh: Di Kakimu, Bertemu
Sutomo Djauhar Arifin
Contoh: Andang Teruna (fragmen)
Rustam Effendi
Contoh: Bunda dan Anak, Lagu Waktu
Kecil
Asmoro Hadi
Contoh: Rindu, Hidup Baru
Hamidah
Contoh: Berpisah, Kehilangan Mestika
(fragmen)
Sastrawan dan Hasil Karya
Amir Hamzah
Contoh: Sunyi, Dalam Matamu
Hasjmy
Contoh: Ladang Petani, Sawah
Lalanang
Contoh: Bunga Jelita
O.R. Mandank
Contoh: Bagaimana Sebab Aku Terdiam
Mozasa
Contoh: Amanat, Kupu-kupu